Kebahagiaan : Remot Kontrol yang Hilang

Remote Kebahagiaan

“Kang, gua lagi bingung nih. Rasanya nikah sama dia gak bikin gua bahagia.”

Itu sepotong keluhan yang terucap dari salah satu teman kantor, ketika makan siang bareng beberapa bulan lalu.

Hayooo! Ada nggak dari pembaca yang memiliki keluhan sama. Gelombang panas dari hati yang merayap ke kerongkongan dan menebarkan rasa pahit di lidah. Kecuuuut! Setiap ingat pasangan hidup yang dirasa tidak membuat bahagia.

Kalau ada, maaf jika dari kejauhan saya ketawa jahat. Oh, bodohnya kamu!

Kita tidak berhak mengizinkan orang lain mendikte kebahagiaan diri sendiri. Siapa pun dia! Orang tua, suami, istri, pacar, apalagi cuma sebatas teman.

Kalau itu yang terjadi, hidupmu tak beda dengan orang yang menyerahkan remote kontrol televisi miliknya pada orang lain.

Dia bisa memutar dan mengganti acara seenaknya udelnya. Acara komedi yang bikin kamu terpingkal dan tergelak bahagia bisa berubah sekejap. Jadi drama Korea yang mengharu-biru dan membuat banjir air mata.

Sadly, but true. Itulah yang justru banyak terjadi. Menganggap teman hidup sebagai separuh atau sepenuh jiwa raga. Menyerahkan kebahagiaan dan kesengsaraan sepenuhnya pada kuasa orang lain.

Allah tidak menciptakan orang lain semata untuk membahagiakan orang lain. Tiap individu punya tanggung jawab untuk kebahagiaannya masing-masing dengan cara yang diridhai Allah.

Jadi, bahagia atau sengsara sepenuhnya ada dalam dirimu. Jadi mblooooo … (Ehhhh, maaf jika saya tergoda untuk nunjuk kamu yang masih jomblo) kalau sampai hari ini masih jomblo, tetaplah berbesar hati karena bukan pasangan hidup yang bertanggung jawab bikin kamu bahagia. Orang yang paling bertanggung jawab adalah dikau sendiri.

Sekali lagi saya ingin mengulang kata bijak favorit saya dari Ali RA,

“Carilah dalam dirimu. Semua sudah ada dalam dirimu.”

Sudah ketemu belum? Kalau sudah ketemu, jangan sampai kuncinya kau serahkan pada orang lain.

Banyak orang muda yang berpikir cuma bisa bahagia setelah memiliki pasangan hidup seolah kebahagiaan itu bisa saja diperoleh dari pasangannya, saat kebahagiaan itu tidak juga dicapai, lantas dia menyalahkan pasangannya lebih parah lagi menyalahkan perkawinan.

Padahal kebahagiaan tidak harus tergantung pada apapun. Tidak pada perkawinan tidak juga pada pasangan hidup. Dalam islam perkawinan adalah sunnah, untuk menyempurnakan iman. Bahkan dikatakan untuk menyempurnakan separuh agama karena perhatian akan menghindarkan kita dari dosa sekaligus jadi sarana untuk meningkatkan ibadah dan amal shalih. Bukan Satu satunya cara untuk mencapai kebahagiaan.

Jika remot kontrol kebahagiaan yang hilang itu belum juga ketemu. Sekarang, cari lagi di sudut hatimu. Mungkin kebahagiaan itu nyelip diantara hal-hal yang membuatmu tidak bahagia.

 

*** Image fm TheAtlantic.com

Jakarta, 20.05.16

One thought on “Kebahagiaan : Remot Kontrol yang Hilang

Silahkan tinggalkan balasan anda